Tidak Ada Hizbiyyah Dalam Dakwah Salafiyyah

TIDAK ADA HIZBIYYAH DALAM DAKWAH SALAFIYYAH

[Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-]

Pertanyaan: Sebagian orang yang membuat Hizbi berkata: SESUNGGUHNYA ISLAM TIDAK AKAN TEGAK KECUALI DENGAN HIZBIYYAH! Mereka menuduh kalian bahwa kalian tidak memiliki gambaran yang benar tentang cara menegakkan Daulah Islamiyyah! Perlu diketahui bahwa ‘AQIDAH MEREKA ADALAH ‘AQIDAH SALAFIYYAH, dan mereka mendakwahkan/mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah! Maka apa bantahan anda terhadap mereka?!

Jawaban (dari Imam Al-Albani):

“Kita tanya kepada mereka: Apakah mereka melaksanakan dakwah mengajak kepada Tauhid?

Kalau jawaban mereka adalah: Ya.

Maka kita katakan kepada mereka: Orang-orang kafir berkata: Kami di atas petunjuk dan di atas kebenaran! Maka bagaimana sikap kita terhadap perkataan mereka?!

Kita katakan kepada orang-orang yang membuat Hizbi: Kalian mendakwahkan Tauhid, dan mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka perlihatkanlah kepada kami ibadah kalian, shalat kalian, dan akhlak kalian di rumah kalian dan terhadap keluarga kalian…dan seterusnya, apakah benar mereka telah sesuai dengan keadaan para Salafush Shalih?! Atau menurut istilah mereka: telah di atas Sunnah?!

Kalau mereka demikian; maka kenapa kalian membuat kelompok tanpa menyertakan orang-orang yang lainnya?!

Kenapa kalian tidak membiarkan saja Dakwah ini tersebar (secara wajar) di antara kaum muslimin, dengan berbagai perbedaan kelompok dan madzhab mereka?!

MAKA DAPAT DIPASTIKAN BAHWA DIBALIK PEMBUATAN KELOMPOK DAN HIZBI INI ADA SESUATU, YANG TIDAK AKU KATAKAN SAMAR; BAHKAN HAL ITU SANGAT JELAS!

Dan setiap kelompok dan hizbi yang asalnya di atas (manhaj) Salafush Shalih, maka dengan semata-mata membuat kelompok: anda akan melihatnya berada di ruang lingkup kelompoknya dan melupakan dakwahnya!

Kami merasakan hal ini pada banyak orang yang secara hakiki mereka benar-benar di atas Dakwah Salafush Shalih, MAKA MEREKA MULAI MENYIBUKKAN DIRI DENGAN KELOMPOK DAN HIZBI; YAKNI: (SIBUK) DENGAN POLITIK!!

Oleh karena itu: POLITIK DAN DAKWAH TAUHID -yang sesuai dengan (manhaj) Salafush Shalih- MAKA INI TIDAK MUNGKIN (BERSATU) SELAMA-LAMANYA, DAN INI ADALAH PERKARA YANG MUSTAHIL. Karena sudah menjadi perkara yang thabi’i bahwa seseorang tidak akan mungkin dia menguasai semua ilmu dan berspesialisasi dalam setiap ilmu, karena dia pasti akan lebih condong kepada suatu ilmu dibandingkan yang lainnya.

Dan ini adalah sunnatullah pada makhluk-Nya, dan inilah kemampuan seseorang yang Allah fitrohkan hamba-hamba-Nya di atasnya.

Kalau mereka ingin berdakwah; maka alangkah mudahnya dakwah itu! Dan (dakwah) benar-benar tidak butuh kepada berkelompok-kelompok!

Kalau mereka mau menyibukkan diri sengan sesuatu selain dakwah: seperti mereka berada dalam organisasi kebaikan (sosial) yang mengumpulkan harta dan membantu orang fakir miskin; maka ini merupakan organisasi kebaikan (sosial), karena ini termasuk makna firman Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-:

{وَلَا تَـحَاضُّوْنَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ}

“Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Fajr: 18)

Maka ajakan ini merupakan perkara kebaikan yang dianjurkan dalam Al-Qur’anul Karim.

Dan amal kebaikan ini asalkan tidak dengan memusuhi mereka yang mendakwahkan agar umat kembali kepada (manhaj) Salafush Shalih secara ‘aqidah, fiqih, dan akhlak…dan lainnya, bahkan justru mengatakan: Kami membutuhkan kalian; maka ini adalah sebaik-baik amal.

Adapun mereka yang membuat Hizbi; maka sesungguhnya mereka sangat jauh sekali dari dakwah mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih khusus lagi dakwah Tauhid.

Dan siapa saja yang memperhatikan dunia Islam pada zaman sekarang: DIA AKAN MELIHAT JAUHNYA KAUM MUSLMIN DARI TAUHID, padahal da’i-da’i sangatlah banyak! Dan kelompok-kelompok serta jama’ah-jama’ah hizbi juga banyak!

Kalaulah MEREKA MEMAKSIMALKAN USAHA MEREKA dan mengarahkannya untuk mengajari kaum muslimin tentang Tauhid dan ibadah yang benar; niscaya akan kita dapati dunia Islam akan berbeda dengan keadaannya sekarang, berupa jauhnya dari Tauhid, apalagi dari Sunnah -dengan maknanya yang umum dan mencakup-.

Jadi maksudnya: Bahwa pembuatan hizbi ini akan menjauhkan mereka dari menisbatkan diri kepada Salafush Shalih -walupun mereka orang-orang shalih-, karena mereka tidak akan mampu untuk melaksanakan kewajiban berdakwah mengajak kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas Manhaj Salafush Shalih yang mereka menisbatkan diri kepadanya..

Intinya bahwa mereka menyangka bahwa mereka membuat kelompok adalah untuk tujuan dakwah! Akan tetapi dakwah menjadi sangat jauh dari mereka!

INILAH REALITA ORANG-ORANG HIZBI TERSEBUT.

Perlihatkanlah kepadaku sebuah jama’ah hizbi yang menisbatkan diri kepada Salafush Shalih dimana semua individu jama’ah yang mereka dakwahi dari timur sampai barat dan seterusnya: mereka mengenal Tauhid sebagaimana yang dikenal oleh anak-anak kecil di sebagian negeri Tauhid, dimana anak-anak ini hidup dan tumbuh di atas dakwah ini?!

Belum lagi jama’ah-jama’ah yang lain yang tidak mengenal Tauhid dan memeranginya dengan sebuah kalimat: Ini belum waktunya.

Saya pernah mengalami sebuah kejadian ketika saya berada di Jami’ah Islamiyyah ketika kami sedang ada pertemuan: masuklah seorang pemimpin jama’ah tertentu, dan ruangan tersebut dipenuhi kawan-kawan, dan saya duduk di akhir majlis di samping pintu. Maka dia mulai menyalami kami dan sudah ma’ruf bahwa kami tidak mau berdiri dalam rangka menghormati orang lain. Maka dia terpaksa menyalami kawan-kawan dalam keadaan mereka duduk.

Dan saya melihat wajahnya berubah menjadi masam! Maka tatkala ia sampai kepadaku -dan saya berada di paling akhir-; saya katakan kepadanya: Wahai Ustadz, seperti yang mereka katakan di daerah kami Suria: “Tetap mulia walau tanpa berdiri”!

Mendengar ucapanku; dia langsung marah dan berkata: Wahai Ustadz, sekarang bukanlah waktunya…

Mulailah dia menyampaikan ceramah secara panjang lebar bahwa kita tidak boleh menyibukkan diri dengan furuu’ (perkara-perkara cabang). Dan bahwa sekarang ada Partai Ba’ath dan Partai Sosialis -yakni dia mengisyaratkan keadaan di negara kami Suria-!

Dan keluar darinya perkataan yang sangat aneh..Maka saya katakan kepadanya: Wahai Ustadz, anda menginginkan agar kita tidak membahas masalah-masalah khilafiyyah, sedangkan zaman sekarang tidak didapatkan suatu masalah pun melainkan ada khilaf di dalamya, sampai-sampai permasalahan Tauhid!!

Dan makna perkataan anda: Kita tidak boleh membahas walaupun itu permasalahan Tauhid; karena hal itu masih ada khilaf!

Ketika di Syam saya membaca sebuah risalah dengan judul “Laa Ilaaha Illallaah” karya Syaikh Muhammad Hasyim Al-Maghribi, yang dia menjelaskan Laa Ilaaha Illallaah dengan “Tidak ada Rabb kecuali Alllah”! Maka saya katakan perkataan ini dan bahwa makna perkataan anda wahai Ustadz: Janganlah kita membahas walaupun mengenai perkataan yang salah ini ketika menafsirkan Tauhid!

Dan hampir tidak dapat dipercaya bahwa dia berkata: Tidak boleh juga membahas hal ini. Sudah sepantasnya kita tidak menyibukkan diri dengan hal ini pada zaman sekarang!

Wajib atas kita untuk bekerjasama melawan komunis dan atheis…dan seterusnya!

Maka saya katakan kepadanya: Wahai Ustadz, dan anda bekerjasama dengan siapa?! Bersama kaum mukminin atau selain kaum mukminin?!

Dan terjadilah diskusi yang panjang di antara kami, dan dia adalah pimpinan jama’ah yang ma’ruf!

Dan saya lihat bahwa perkataannya ini mencerminkan realita jama’ah-jama’ah yang ada di banyak negeri-negeri Islam!

Oleh karena itulah; BERKELOMPOK DAN MEMBUAT HIZBI: BUKANLAH TERMASUK DAKWAH SALAFIYYAH, dan tidak juga termasuk Sunnah Nabi Muhammad, bahkan hal itu menyelisihi Al-Qur’an yang telah disepakati:

{مُنِيْبِيْنَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوْهُ وَأَقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ * مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ}

“Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah Shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik (yang mempersekutukan Allah), yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Kesimpulannya: Bahwa sepantasnya bagi kita untuk memberikan perhatian kepada dakwah, selama kita mengenal jalan dan arah kita; maka tugas kita hanyalah seperti yang Rabb kita firmankan:

{اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْـحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْـحَسَنَةِ وَجَادِلْـهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ…}

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Dan wajib kita jelaskan kepada mereka tentang akhir dari dakwah mereka menuju kepada apa?!

Kita tahu bahwa puncak tujuan mereka adalah untuk sampai kepada berhukum (dengan syari’at). Akan tetapi Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah meletakkan suatu cara untuk sampai kepada berhukum (dengan syari’at) -dan kita tidak meragukannya-; berdasarkan sabda beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-: “Wahai manusia! Tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian kepada Surga dan menjauhkan kalian dari Neraka; melainkan telah aku jelaskan kepada kalian.” [Lihat: “Ash-Shahiihah” (no. 1803)]

Kalau begitu; maka kita wajib menempuh jalan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dengan apa beliau memulai?!

BELIAU MEMULAI DENGAN TAUHID, oleh karena itulah maka wajib atas kita untuk memulai dengan Tauhid.

Sebagian mereka mengatakan: Sampai kapan kita berdakwah, sedangkan ummat berjumlah jutaan?!

Maka kita katakan:

Kita akan terus berdakwah sampai jutaan ummat tersebut menjadi muwahhidiin (orang-orang yang bertauhid), dan tidak akan semuanya menjadi orang-orang yang bertauhid dengan sesungguhnya, karena perkaranya adalah seperti yang Allah Rabbul ‘Alamin firmankan:

{وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَـجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً…}

“Dan jika Rabb-mu menghendaki; tentu Dia jadikan manusia ummat yang satu…” (QS. Hud: 118)

Akan tetapi minimal: hendaknya orang-orang yang menaruh perhatian terhadap dakwah Islam dan penegakkan hukum Islam di muka bumi: mereka harus menempuh jalannya kaum mukminin dan tidak menyelisihi Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan tidak pula menyelisihi jalannya kaum mukminin (sebagaimana dalam QS. An-Nisaa’: 115).

Maka inilah yang hendaknya kita pastikan dalam masalah ini, dan jangan sampai kita ragu tentangnya sama sekali.”

[“Al-As’ilah Asy-Syaamiyyah” (hlm. 25-34)]

– Diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Hendrix حفظه الله تعالى

Sumber: https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/580086752332205

Leave a Reply

Your email address will not be published.